Welcome

Sabtu, 22 Maret 2014

Mengatasi Rasa Malas

Diposting oleh Unknown di 09.04 0 komentar

Kemalasan merupakan sesuatu yang normal dalam hidup anda. Karena dia normal maka dia pun bisa diatasi. Tips diatas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga anda tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang hanya karena malas mengerjakannya.

1. Membuat Tujuan
Orang yang malas biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang tidak memiliki motivasi biasanya tidak memiliki tujuan-tujuan hidup yang pantas dan layak untuk diraih dan orang yang tidak memiliki tujuan hidup biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah menuliskan resolusi atau komitmen komitmen pencapaian hidup.

Di sinilah pangkal persoalannya. Tanpa tujuan, resolusi, atau komitmen pencapaian hidup. Maka seseorang hanya bergerak secara naluriah dan sangat rentan diombang-ambingkan situasi di sekelilingnya. Posisi seperti ini membuatnya menjadi pasif, menunggu, tergantung pada situasi, dan cenderung menyerah pada nasib. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan ada motivasi untuk meraih atau mencapai sesuatu. Tidak adanya sumber-sumber motivasi hidup menyebabkan kemalasan. biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik.

2. Mengasah Kemampuan
Orang yang memiliki tujuan hidup yang pasti, membuat resolusi, dan komitmen pencapaian biasanya memiliki motivasi tinggi. Tetapi dengan tujuan yang samar-samar, jelas tidak memberikan dampak motivasional yang signifikan. Akan lebih baik lagi jika tujuan dilengkapi dengan aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti mencari cara yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Kita juga perlu sekali mengasah kemampuan atau ketrampilan supaya langkah yang diambil itu akan membawa kita pada pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Contoh: Jika pada tahun yang sudah ditargetkan kita ingin menjadi konsultan, maka sejak sekarang aktivitas-aktivitas kita sudah harus difokuskan ke arah tujuan tersebut. Kita harus terus mengasah kemampuan mendiagnosa masalah, menemukan penyebab, menganalisis, mengkomunikasikan gagasan, menawarkan solusi, dan memperbaiki kemampuan presentasi.

3. Pergaulan Dinamis
Para pemenang berkumpul dengan sesama pemenang, sementara para pecundang cenderung berkumpul dengan sesama pecundang. Ungkapan tersebut mengandung kebenaran. Sulit sekali bagi seorang pemalas untuk hidup di lingkungan para pemenang. Sulit bagi orang malas untuk berada secara nyaman di tengah-tengah orang yang sangat optimis, sibuk, giat bekerja, dan bersemangat mengejar prestasi. Demikian sebaliknya, sulit sekali bagi para pemegang prestasi tinggi untuk betah berlama-lama dengan para orang malas dan pesimistik.

Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada pengaruhnya. Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat dianjurkan agar menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan, putus asa, rasa enggan, apalagi berpikiran negatif. Sepintas, berkeluh kesah dengan orang-orang seperti itu dapat melegakan hati. Ada semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis. Walau demikian, dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati orang-orang yang sedang down sama sekali tidak menolong satu sama lain. Rasa malas dan kebuntuan justru bisa tambah menjadi-jadi. Ini bisa menjerumuskan masing-masing pihak pada pesimisme, keputusasaan, dan kemalasan total.

Jika rasa malas mulai menyerbu kita, maka jangan berlama-lama duduk berdiam diri. Cara paling ampuh menghilangkan kemalasan adalah bangkit berdiri dan menghampiri orang yang sedang tekun dan bersemangat melakukan sesuatu. Dekati mereka yang sedang bekerja keras untuk meraih impian-impiannya. Manusia optimis, termotivasi, punya ambisi, berpikiran positif, dan memiliki tujuan hidup pasti. Umumnya memancarkan aura positif kepada apapun dan siapapun di sekelilingnya. Pancaran optimisme dan semangat itulah yang bisa menginspirasi orang lain, bahkan menularkan semangat yang sama sehingga orang lain jadi ikut tergerak.

Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah menumbuhkan kebiasaan mendisiplinkan diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut. Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses jangan mempermudah munculnya rasa malas.

4. Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”
Apabila Anda dihadapkan pada satu tugas besar atau proyek, anda sebaiknya jangan berpikir mengenai rumitnya tugas tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu. Katakan setiap kali anda bekerja: “Saya mulai sekarang”. Cara pandang ini akan menghindarkan anda dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Anda membuat sederhana tugas di depan anda dengan bertindak positif. Fokus anda hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.

5. Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”
Berpikir bahwa anda harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan anda menjadi malas mengerjakannya. Anda akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas tersebut. Satu tips yang bisa anda gunakan adalah mengganti “Saya harus mengerjakannya” dengan “Saya ingin mengerjakannya”. Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa anda tidak harus melakukan pekerjaan yang anda tidak mau. Anda mau mengerjakan tugas karena memang anda ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Anda selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan anda sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa anda melakukan apa saja yang anda tidak mau lakukan.

6. Anda Bukan Manusia Sempurna
Berpikir bahwa Anda harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa Anda dalam kondisi mental tertekan. Akibatnya anda mungkin akan malas memulainya. Anda harus bisa menerima bahwa anda pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna. Dalam konteks pekerjaan, anda punya kesempatan untuk melakukan perbaikan berulang kali. Anda selalu bisa negosiasi dengan bos anda untuk meminta waktu tambahan dengan alasan yang masuk akal. Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan secara sempurna akan membuat anda memandang pekerjaan tersebut dari hal yang besar dan rumit.


sumber:http://renunganharian-cahaya-bangsa.blogspot.com/2013/02/cara-mengatasi-rasa-malas.html

Pantaskah Anda Mengeluh?

Diposting oleh Unknown di 08.51 0 komentar
Pantaskah anda mengeluh? Padahal anda telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia. Layakkah anda berkeluh kesah? Padahal anda telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan anda untuk membenahi segala sesuatunya.

Apakah anda bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu? lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab anda? Janganlah kekuatan yang ada pada diri anda, terjungkal karena anda berkeluh kesah. Ayo tegarkan hati anda. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena anda tidak tahu jawaban dari masalah anda tersebut.

Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan kamu. Ambillah sebuah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak anda. Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung. Dan mulailah ambil langkah baru.

Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding anda. Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi untuk mengeluh. Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani daripada mereka sesali. Jika demikian masihkan anda lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup ini? 
http://anehdidunia.blogspot.com

Mungkin dengan gambar gambar berikut ini bisa membuat sahabat anehdidunia lebih bersemangat dalam mengarungi hidup ini tanpa merasa kekurangan. 

Jika kamu merasa pekerjaan anda sangatlah berat, bagaimana dengan dia??



http://anehdidunia.blogspot.com

Bila Anda merasa gaji anda sangat sedikit, bagaimana dengan anak yg malang ini??


http://anehdidunia.blogspot.com

Jika Kamu merasa belajar adalah sebuah beban, contohlah semangat dia..


http://anehdidunia.blogspot.com

Jika kamu sempat merasa putus asa, ingatlah orang ini!


http://anehdidunia.blogspot.com

Pantaskah kita mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan happy meal?? http://anehdidunia.blogspot.com

http://anehdidunia.blogspot.com

Jika Kamu merasa hidup Kamu sangat menderita, apakah Kamu juga merasakan penderitaan seperti orang ini??
 
http://anehdidunia.blogspot.com

Jika Kamu merasa hidup Kamu tidak adil, bagaimana dengan dia??


http://anehdidunia.blogspot.com

Di saat kita kecil dimanja dan disayang, manjakah mereka??
 
http://anehdidunia.blogspot.com

Tidakah merasa bersalah kita masih selalu tidak mendengarkan bahkan melawan ibu kita?


http://anehdidunia.blogspot.com

Berjanjilah pada diri sendiri, lalu lakukan. Talk less do More! terima kasih udah lihat postingan ini.. sebarkan lewat share box dibawah jika dirasa ini penting untuk dishare ke orang-orang yang kalian sayangi. ht

Senin, 10 Maret 2014

Nantikanku Di Batas Waktu oleh: Edcoustic

Diposting oleh Unknown di 10.31 0 komentar
Berdoa di kedalaman hatikuTersembunyi harapan yang suciTak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihankuYang terukir menghiasi dirimuTak perlu dengan kata-kata
Sungguh walau ku keluTuk mengungkapkan perasaankuNamun penantianmu pada dirikuJangan salahkan
Kalau memang kau pilihkan akuTunggu sampai aku datangNanti kubawa kau pergiKe surga abadi
Kini belumlah saatnyaAku membalas cintamuNantikanku di batas waktu

Senin, 03 Maret 2014

Pink - Music Code HTML

Diposting oleh Unknown di 10.50 0 komentar
Songs: 10

Pink - Stupid Girls
Click here to listen



Copy and Paste:





Pink - U and Ur Hand
Click here to listen



Copy and Paste:






Pink - Long Way To Happy
Click here to listen



Copy and Paste:






Pink - Leave Me Alone (I'm Lonely)
Click here to listen



Copy and Paste:






Pink - Who Knew
Click here to listen



Copy and Paste:






Pink - Dear Mr. President
Click here to listen



Copy and Paste:






Pink - So What
Click here to listen



Copy and Paste:






Pink - Raise Your Glass
Click here to listen



Copy and Paste:






Pink - Blow Me (One Last Kiss)
Click here to listen



Copy and Paste:






Pink - Just Give Me A Reason (feat. Nate Reuss)
Click here to listen



Copy and Paste:

Minimnya Kesadaran Literasi

Diposting oleh Unknown di 10.35 0 komentar

            Mayoritas sarjana lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak bisa menulis bahkan para dosennya mayoritas tidak bisa menulis atau tidak mau melakukannya. Rendahnya kemampuan menulis menjadi sebuah realita, sehingga bukan suatu kerahasiaan.
Dalam pandangan saya, bukan karena tidak bisa menulis melainkan karena seseorang itu takut untuk mencobanya. Jika seseorang tidak memiliki keberanian untuk menulis maka tidak akan pernah lahir sebuah karya tulis. Untuk itu, diperlukan keberanian sebagai langkah pertama untuk mencoba melahirkan tulisan.
            Menulis merupakan sebuah keterampilan yang dapat dipelajari oleh siapapun. Oleh karena itu, perlunya mempelajari cara menulis yang baik dan benar sejak dini mungkin karena menulis bukanlah sebuah bakat melainkan, karena memiliki pengetahuan, pengalaman, keberanian serta adanya inspirasi untuk menciptakan tulisan.
Saya tidak sependapat dengan opini yang mengatakan “Selama ini Perguruan Tinggi kita mewajibkan mahasiwa menulis Skripsi, Tesis, dan Disertasi, karena itulah ajang yang jitu untuk mengasah keterampilan menulis, meneliti, dan melaporkannya secara akademik”. Alasan saya, Indonesia seharusnya mengikuti jejak langkah Amerika dengan banyak menulis essay serta mengeluarkan komentar kritis dari dosen dan tidak diharuskan membuat artikel jurnal maupun skripsi, tesis maupun disertasi. Jika hanya mengasah hanya melalui pembuatan Skripsi ataupun Tesis berarti mahasiswa hanya melakukannya sekali sampai dengan tiga kali selama duduk di perkuliahan S1 sampai dengan S3. Itu hanya menjadi solusi alternative daripada selama duduk di perkuliahan mahasiswa tidak pernah melahirkan sebuah tulisan.
            Jika dalam penelitian Krashen (1984), “para penulis produktif dewasa adalah mereka yang sewaktu di SMA banyak membaca karya sastra, berlangganan Koran atau majalah, dan terdapat perpustakaan di rumahnya sehingga perlu pembenahan di tingkat SMA, agar lahirnya penulis produktif”. Pendapat saya, pembenahan itu dilakukan sejak usia dini karena “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di usia dewasa bagai mengukir di atas air”. Jelas adanya perbedaan antara mengukir di atas air dengan mengukir di atas batu, jika seseorang diberikan motivasi sejak kecil maka semangat belajar anak itu masih sangat besar tentunya bisa dilakukan dengan langkah pembenahan tadi yaitu, guru maupun orang tua memberikan motivasi agar anaknya gemar membaca karya sastra baik itu SD, SMP, SMA bahkan yang belum sekolah sekalipun. Jadi tidak hanya di tingkat SMA saja pembenahan itu dilakukan. Kesadaran membaca-menulis (literasi) harus disampaikan oleh guru di sekolah agar terciptanya generasi yang lebih baik lagi. Dengan kesadaran membaca tersebut, otomatis anak akan gemar mengoleksi buku-buku yang ia sukai. Jika sudah menjadi kebiasaan maka anak akan mencintai membaca-menulis (literasi) secara sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Kemudian, anak akan mungkin dapat menjadi penulis produktif dengan adanya pengalaman yang sudah ia lalui, pengetahuan yang telah ia pelajari sejak kecil melalui peran guru maupun dari buku yang pernah ia baca, serta dari kesadarannya dan bentuk inspirasi yang kuat dari jiwa anak.
            Dalam wacana “Powerful Writers versus the Helpless Reader”
         Ketika pembaca mengatakan “saya tidak memiliki latar belakang pengetahuan yang sama” hal itu menunjukkan kurangnya kepercayaan diri. Sama halnya seperti masalah yang melatar belakangi “Keberanian (Courage)”. Faktor utama yaitu Keberanian. Caranya dengan membangun pendekatan oleh masyarakat agar menyadari arti pentingnya belajar literasi secara terus menerus dan menanamkan keberanian untuk melakukannya,
Saya sangat setuju dengan penulis yang mengatakan “Fenomena penggunaan yang salah yaitu dibelinya buku teks impor untuk mahasiswa Indonesia”.
Bagaimana ingin mengeluarkan buku sebanyak 80 juta per tahun jika membeli bukunya saja di luar negeri dan mahasiswa diasupi pengaruh negative dari buku impor tersebut. Mengapa tidak berusaha untuk mencoba membuatnya terlebih dahulu bisa saja buku yang dihasilkan lebih baik daripada buku impor. Dosen yang tidak bisa menulis, mungkin mereka beranggapan bahwa dosen tidak harus menjadi seorang penulis, tetapi bukankah untuk mencapai gelar kesajarnaan mereka harus membuat tulisan akademik dan melakukan penelitian sebelum mendapatkan gelar tersebut. Jadi, kenapa tidak dikembangkan dengan pengalaman yang telah ada dan bisa mencadi contoh untuk mahasiswanya.
Analisis hasil tes yang diambil oleh mahasiswa Indonesia disajikan oleh Dr. Imam Bagus yaitu “Menunjukkan bukti mengejutkan siswa tidak mampu mengidentifikasi tema utama potongan prosa Indonesia langsung dalam pemeriksaan pilihan ganda”.
Menurut saya, hal ini terjadi karena kurangnya praktek dalam hal pemahaman membaca. Dibutuhkan kesadaran membaca yang tinggi serta dapat mempraktekkannya dalam menjawab soal-soal maupun dalam aktifitas lainnya. Penerapan sistem yang dirancang Paymasters harus sesuai dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia. Ada baiknya sebelum menggunakan bahasa Inggris kita harus menguasai dan mempraktekkan bahasa kita sendiri dengan tepat dan benar.

Kesimpulan

Budaya membaca-menulis (literasi) perlu ditanam sejak usia dini tidak harus menunggu di tingakt SMA maupun Perguruan Tinggi. Ditunjang dengan keberanian untuk mencoba menulis dan menciptakan karya tulis sehingga tidak perlu lagi untuk membeli buku impor, karena tidak semua buku yang diasup dari luar itu semuanya baik untuk diambil. Sebelum menggunakan bahasa Inggris kita harus menguasai bahasa Indonesia terlebih dahulu secara benar. Penulis produktif akan lahir jika memiliki empat keterampilan, yakni pengetahuan, keberanian, pengalaman, dan inspirasi.  

Inovasi Menulis


            Pada mata kuliah Writing 4, kembali Mr.Lala Bumela men-share ilmunya kepada mahasiswa-mahasiswi khususnya di kelas PBI-C dalam semester keempat ini. Ada beberapa perbedaan apabila dibandingkan dengan semester sebelumnya, dan ada perubahan dari Writing 4 menjadi Academic Writing. Kemudian, adanya penulisan Real Critical Review dan Proper Example. Keseluruhan dari materi yang akan disampaikan haruslah memiliki cita rasa yang besar “Big Sense”. Selain dari Chapter Review dan Class Review ada penambahan pembuatan Critical Review dan juga pembuatan Appetizer Essay yang menurut kita merupakan hal baru, bahkan baru di dengar pertama kalinya. Jumlah halaman yang harus diselesaikan pada buku Passport pun bertambah dari sebelumnya, diantaranya:
-          Class Review, minimal lima halaman ;
-          Chapter Review tidak kurang dari sepuluh halaman;
-          Critical Review minimal 2500 kata atau sekitar tujuh halaman;
-          3000 kata dalam pembuatan Argumentative Essay;
-          dan Appetizer Essay minimal lima halaman.
Hanya argumentative Essay yang ditulis dalam bahasa Inggris, sedangkan yang lainnya ditulis dalam bahasa Indonesia.
            Ada beberapa buku yang harus dicari, kurang lebih ada 12 daftar buku yang terdapat di dalam silabus Writing 4. Kita harus merasakan bagaimana rasanya pencarian buku yang luar biasa hebat susahnya dan membutuhkan perjuangan dalam menimba ilmu, sama halnya seperti yang dirasakan oleh Mr.Lala Bumela dalam pengalamannya pada saat itu. Itulah salah satu pencarian ilmu serta perjuangannya dalam menimba ilmu. Kita juga dituntut untuk belajar dengan standar tinggi agar memiliki kualitas yang tinggi pula. Tidak harus dituntut sebetulnya belajar adalah tugas kita sebagai seorang pelajar dan agar tidak tertinggal dengan bangsa lain. Standar pembelajaran dengan mutu tinggi dan menghasilkan kualitas yang lebih baik itulah yang kita semua butuhkan.
            Buku yang kita cari hampir setiap buku berbau sistemik linguistic dan didalamnya berisikan materi Academic Writing serta ilmu-ilmu Writing lainnya. Appetizer Essay sendiri merupakan sesuatu yang baru dalam semester empat ini dan memiliki pengertian yaitu, dari kata Appetizer yang berarti selera makan, harus dipicu oleh makna-makna tertentu. Sifatnya seperti Opini Essay yaitu, berisikan Opini besar penulis serta opini kita, setuju atau tidak dengan pemikiran penulis.
Dimensi pengajaran Writing tidak semudah seperti apa yang kita fikirkan. Pendekatan menulis sekarang sudah berevolusi. Dalam komunikasi tulis, terdapat empat unsur yang terlibat yakni:
·         Penulis sebagai penyampai pesan, isi tulisan, media yang berupa tulisan, dan reader sebagai penerima pesan.
            Dengan keterampilan menulis yang baik, seseorang akan dapat menyebarkan pemikirannya, pendapat, pandangan maupun gagasan tentang berbagai macam hal dengan cara yang menarik serta mudah dipahami.
Jika mahir menulis kemungkinan menjadi Effective Teacher

                                                Effective Teacher akan menjadi                     Strong Teacher

                                                                                    Strong Teacher is a reflective teacher.
Itulah criteria dosen yang yang baik yang telah dipaparkan oleh Mr.Lala Bumela.
Semakin kuat daya ingat seseorang tentunya ada ilmu yang mereflesikan.
            Banyak-banyak membaca text berbahasa Indonesia dahulu agar tidak tersesat di text berbahasa Inggris.
Mengenai menulis akademik :
Dalam buku Stephen Bailey menuturkan :
            Menulis akademik diakui sebagai kebutuhan dan fleksibel karena memungkinkan siswa dari berbagai prodi dan tingkatan dapat berlatih aspek-aspek penulisan yang paling penting untuk studi mereka.
            Menulis akademik dibagi menjadi empat bagian. Tahap awal dalam menulis akademik yaitu, memahami judul esai, melalui catatan membuat paraphrase, struktur esai, bukti, membaca.
Bagian kedua berkaitan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk sebagian jenis tugas, seperti membuat perbandingan, memberikan contoh dan menjelaskan grafik.
Ketiga, akurasi dalam menulis memberikan praktek perbaikan di daerah-daerah yang sering membingungkan seperti menggunakan artikel, pasif atau preposisi.
Keempat, menulis model menawarkan contoh jenis termasuk surat-surat dan survey laporan serta esai.
Dalam buku Bailey juga disebutkan keempat bagian menulis akademik dibagi menjadi 61 units pendek yang mengajarkan keterampilan menulis praktis dan merevisi kesulitan umum setiap unit berisi latihan dan kunci jawaban yang komprehensif diberikan di akhir.






Kesimpulan
            Cita rasa yang besar “Big Sense” harus dimunculkan ketika menulis agar memikat pembaca dengan tulisan yang telah kita tulis.
Pembuatan Critical Review, Appetizer Essay merupakan sesuatu yang baru yang akan dipelajari dalam semester ini berhubungan dengan Academic Writing dan juga tidak luput dengan pencarian buku-buku Writing untuk menunjang pelajaran. Semakin berkembangnya zaman, pendekatan menulis juga semakin berevolusi.

Untuk menjadi Effective Teacher diperlukan kemahiran dalam hal menulis. Effective Teacher akan menghasilkan guru yang kuat (Strong Teacher). Guru yang kuat adalah seorang guru yang reflective. Semakin kuat daya ingat seseorang tentunya ada ilmu yang mereflesikan.

Lemahnya Literasi di Indonesia

Diposting oleh Unknown di 10.34 0 komentar

Adanya sebuah metode untuk mempelajari sebuah ilmu itu sangat penting, memilih setiap metode yang dicocok juga perlu untuk dilakukan. Inilah beberapa metode dan pendekatan pengajaran bahasa asing yang telah dikelompokkan oleh para ahli bahasa dalam buku rekayasa literasi oleh Pak Chaedar Alwasilah, diantaranya:
-          Metode tata bahasa grammar dan terjemah  (pendekatan structural). Tahap awal dalam pengajaran bahasa asing menggunakan pendekatan struktural, pendekatan ini meletakkan focus pembelajarannya pada penggunaan bahasa tulis dan penguasaan tata bahasa kemudian menyusunnya dalam suatu kalimat. Pendekatan ini banyak memiliki kelemahan terutama terjadi pada fakta bahwa masing-masing bahasa memiliki tata bahasa yang berbeda-beda. Siswa bisa saja terjebak dalam kesalahan structural ketika menyusun kalimat dalam bahasa yang sedang dipelajari. Pengetahuan tentang tata bahasa membuat siswa menjadi sangat kaku untuk mempelajarinya sehingga kegiatan pembelajaran bahasa asing dengan pendekatan ini menjadi membebankan serta menakutkan. Sebagai contoh dalam bahasa iklan yang terkadang sesat dan menyesatkan.
-          Pendekatan dengar-ucap (audiolingual). Metode audiolingual ini mengajarkan siswa untuk berlatih mendengar dialog pendek agar dapat dikuasai serta dapat mempraktekkannya secara langsung saat berkomunikasi dikemudian hari. Akan tetapi,  karena hanya menekankan pada kemampuan berbicara serta mendengar membuat bahasa tulis menjadi terabaikan dan muncul kesalah fahaman saat berkomunikasi.
-          Pendekatan kognitif dan transformative dipelopori oleh Noam Chomsky ahli bahasa Amerika pada tahun 1957 mengenai teori-teori syntactic structure dan focus pengajarannya mengenai membangkitkan potensi berbahasa siswa sesuai dengan potensi dan kebutuhan lingkungannya. Kelemahan pada pendekatan kognitif dan transformative ini tidak semua bahasa itu hanya bersintaksis saja karena ada kemungkinan ditinjau dari sintaksis benar tetapi secara sosiolinguistik tidak fungsional dan berpendapat lain.
-          Pendekatan communicative competence yang dipelopori oleh Hymes (1976) dan Widdowson (1978). Pendekatan ini betujuan pengajaran siswa mampu dalam berbahasa target yaitu siswa dapat berkomunikasi secara terbatas bahkan secara langsung dan alami. Pendekatan communicative competence ini memiliki kelemahan karena dianggap kurang ekplisit dalam segi penjelasan bentuk dan fungsi. Kemudian lahirlah Systemic Functional Grammar (SFG) atau tata bahasa fungsional yang dikembangkan oleh Halliday (1985), Martin (2000), dan lain-lain.
-          Pendekatan literasi atau genre based, pendekatan ini menyesuaikan kurrikulum 2004 di Indonesia dengan tujuan siswa mampu menghasilkan wacana yang sesuai dengan tuntutan konteks komunikasi serta lebih mengedepankan kepada pengenalan berbagai genre wacana lisan maupun tulisan melalui empat tahapan: building knowledge of field, modeling of text, joint construction of text, and independent construction of text.
Apa itu literasi?
Literasi dalam konteks pendidikan di Indonesia yang kita temui sekarang ini adalah pembelajaran bahasa. Jika kita mencari pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia maka yang ada hanyalah kata literator dan literer. Sedangkan menggunakan definisi lama literasi adalah kemampuan membaca dan menulis.
Kita mencoba menengok keadaan literasi (baca-tulis) pada zaman dahulu, literasi hanya dianggap cukup sebagai modal dasar pendidikan agar dapat mengahadapi tantangan zaman. Tetapi bukan itu maksud sebenarnya terciptanya literasi. Keadaan saat ini jika hanya mengandalkan pendidikan dasar tidak akan cukup.
Literasi kini kian berevolusi dan maknanya pun semakin meluas dan kompleks. Literasi kini bukan hanya membaca dan menulis saja tetapi juga mencakup bidang lain seperti:
-          Matematika
-          Sains
-          Social
-          Lingkungan
-          Keuangan
-          Bahkan Moral.

Keadaan literasi anak negeri. Jika kita mengetahui lebih banyak dengan keadaan literasi di negeri ini pastinya mulut kita akan ternganga lebar dan menggeleng-gelengkan kepala. Mengapa? Karena bangsa kita benar-benar tertinggal jauh dengan bangsa lain. Mampukah sekarang ini kita dapat mengejar ketertinggalan kita dengan bangsa lain?. Untuk direnungkan bersama-sama. Diawali dengan kata prestasi. Siapa yang tidak menginginkan memiliki sebuah prestasi? Ya, pastinya semua ingin memiliki prestasi, tapi bagaimana jika prestasi tersebut di dapat dari urutan kelima pada barisan terbawah. Bangga kah prestasi seperti itu? Indonesia menduduki prestasi kelima dari urutan terbawah dalam bidang membaca. Ada yang salah dengan keadaan pembaca atau tidak ada nya penulis yang menghasilkan sebuah karya, hal itu mungkin menjadi salah satu faktornya. Sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia tidak melek dengan literasi yaitu mereka selalu terpejam jika melihat tulisan atau buku. Baru beberapa menit membaca mereka sudah merasa mengantuk, dan banyak buku-buku yang hanya dijadikan sebuah pajangan di lemari. Tahukan kita bahwa negara lain lebih maju dalam bidang karya tulis dan membaca nya, karena masyarakat melek akan bacaan. Mereka lebih memilih meninggalkan kendaraan mereka untuk sampai kesuatu tempat dan lebih memilih dengan kendaraan umum. Karena mereka bisa melakukan aktivitas membaca buku di dalam bis/mobil sampai menunggu sampai ditempat tujuan. Sedangkan keadaan yang terjadi di angkutan umum di Indonesia banyak sekali orang yang hanya duduk termenung tanpa adanya suatu aktivitas atau melakukan aktivitas yang hanya membuang-buang waktu saja seperti bermain gadget, hp, dls. Prestasi membaca begitu rendah karena budaya suka membaca belum diterapkan dalam kehidupan sehari hari.

Literasi (Sumber Kualitas Hidup Manusia)

Diposting oleh Unknown di 10.32 0 komentar


Saatnya aku berlari sekencang mungkin
Untuk membebaskan diri ini dari kemalasan
Yang selalu membelenggu semua anggota badan
Sekarang adalah saatnya untuk mengembangkan sayap
Aku harus melakukan sesuatu untuk merubah dunia
Tubuh ini memang memiliki batasan
Namun aku mempunyai fikiran
Fikiran yang didukung anggota gerak
Ku akan merubah dunia
Walau hanya sedikit
Yakinlah, aku bisa !

Itulah untaian kata pertama yang ku persembahkan untuk mengawali tulisan ini agar diri ini sadar akan suatu perubahan. Makna dari untaian kata yang ku buat bahwa sudah tidak ada waktu lagi untuk bermalas-malasan, jangan terus menerus tertidur kita harus berlari sekencang mungkin. Keadaan negara kita ini masih tertinggal jauh di saat negara lain sudah berlari di depan kita hanya tertidur dan tertinggal di belakang. Sudah seharusnya kita mengejar semua ketertinggalan bangsa ini.
Bukan hanya aku tapi kalian semua, perubahan dimulai dari kita pribadi sampai mengakar kemudian menuju kearah yang lebih luas. Manusia memiliki fikiran yang membuat berbeda dengan makhluk lainnya. Beruntunglah kita ini dapat merasakan pendidikan sehingga fikiran ini terus menerus dibuka, diisi, dan dikembangkan.
Berhubungan dengan fikiran maka ada istilah berfikir kritisMenurut Paul (1993) Berpikir kritis adalah mode berfikir mengenai hal, substansi, atau masalah apa saja – dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.
Untuk mengejar semua ketertinggalan bangsa kita dibutuhkan adanyaRekayasa Literasi, yakni sesuai dengan pengertiannya bahwa Rekayasa Literasi adalah upaya yang disengaja dan sistematis untuk menjadi manusia terdidik dan berbudaya lewat penguasaan bahasa secara optimal.(Prof. Chaedar Alwasilah)
Maju mundurnya suatu bangs dapat diukur dari tingkat literasi bangsa tersebut. Kemudian, yang menjadi pertanyaan yaitu “Apa yang seharusnya direkayasa?”.
Jawaban dari pertanyaan tesebut, yakni “Pengajaran membaca dan menulis”.
Dalam disiplin ilmu pendidikan, pengajaran membaca dan menulis berkaitan erat dengan literasi, maka perlu adanya rekayasa dalam pengajaran membaca dan menulis dalam hal ini. Peserta didik  dengan daya literasi tinggi akan mampu mengolah informasi dari teks yang dibacanya, kemudian menyimpulkan dan mengambil keputusan dari infomasi tersebut.
Literasi menjadi sumber kualitas hidup manusia. Oleh karenanya, literasi merupakan sumbu pusaran pendidikan untuk itu upaya strategis (rekayasa) untuk menumbuhkan daya literasi Indonesia secara menyeluruh dan berkesinambungan adalah dengan memulainya dari pendidikan (pengajaran baca-tulis) di sekolah.
Negara dengan tingkat literasi tinggi seperti Jepang, Finlandia, dan Amerika secara sistematis menempatkan manfaat buku sebagai pokok utama untuk menunjang kegiatan belajar. Keterbiasaan dengan buku akan menumbuhkan kesadaran akan cinta terhadap membaca. Peningkatan literasi terkait erat dengan peran buku sehingga hal ini dapat membuat proses pembelajaran menjadi aktif dan kritis karena adanya buku yang memfasilitasi guru dan peserta didik.

Peningkatan literasi juga memerlukan adanya guru yang dipersiapkan untuk menanamkan pemahaman literasi dan mengajarkannya di kelas. Hubungan antaraliterasi dan peran guru inilah yang menjadi ujung tombak pendidikan literasi. Setelah mempelajari literasi (baca-tulis) maka akan memunculkan penulis-penulis dalam generasi baru.
Menjadi penulis multilingual merupakan kedambaan setiap orang. Saat ini ada seorang generasi muda Indonesia juga memiliki kemampuan multilingual dalam usianya yang masih 16 tahun, Gayatri Wailissa menguasai 9 bahasa di luar bahasa ambon dan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya. Bahasa yang dikuasainya, yakni bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Mandarin, Jepang, Italia, Spanyol, dan Arab. Gayatri menguasai bahasa verbal dan bahasa tulis. Bahkan ia mampu menghasilkan karya tulis sendiri seperti karya sastra sebagai penulis multilingual.
Untuk belajar multilingual bahasa menurut Gayatri: “bahasa itu media untuk berkomunikasi, karena kita menggunakan bahasa untuk alat komunikasi”
Gayatri belajar multilingual bahasa melalui tiga metode, yaitu:
·         Melalui buku (menghafal kata, tata bahasa);
·         Mengulang percakapan di depan kaca sendiri;
·         Lewat lagu, dengan menonton film, melalui pronunciation yang mereka ucapkan.
Tidaklah penting siapa kita, yang terpenting apa yang bisa kita lakukan untuk menunjang apa yang mampu kita perbuat.
Yang dibutuhkan untuk menulis, yaitu:
-          Mengetahui caranya menulis;
-          Mempresentasikan kepada khalayak;
-          dan memproduksi tulisan;
Agar lebih maju untuk menghasilkan karya tulis juga dibutuhkan:
-          Banyak membaca (Read);
-          Meresponse
-          Dan menulis (write – re write ) secara terus menerus.
Di dalam tulisan mengandung adanya text. Setiap text harus didekati dengan cara yang berbeda-beda.
Menurut Lehtonenpengajaran writing itu berawal dari text. Sifat dari text tersebut yaitu verbal, written, dan visual.
Menurut Ken Hyland pada bukunya yang berjudul “English for Academic Purposes (EAP)” menerangkan jelas bahwa literasi adalah segala sesuatu yang kita lakuan, berliterasi bisa melalui apa saja. Hal itu merupakan ujung dari literasi “Something we do”.
Perlu diingat kembali adanya 4 dimensi dalam literasi (Prof. Chaedar Alwasilah), diantaranya:
-          Linguistik (focus text);
-          Kognitif (mind);
-          Perkembangan (growth) – (Kucer 2003:293);

-          dan Sosiokultual (group).
 

Saleha's blogger © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor