Welcome

Senin, 03 Maret 2014

Damai itu Indah, Perbedaan itu Anugerah

Diposting oleh Unknown di 10.31 0 komentar

Critical Review
(Classroom Discourse to Foster Religious Harmony)


Kerukunan beragama di tengah keanekaragaman budaya merupakan aset dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia dengan Ideologi Pancasila menjadi pemersatu kemajemukan suku, budaya dan agama di naungan suatu tatanan demokratis. Tujuan utama dari kerukunan beragama yakni keharmonisan dalam berkomunikasi antara penganut agama. Orang-orang yang berada di lingkungan kita memiliki berbagai jenis agama yang mereka yakini. Begitu pula di lembaga pendidikan tempat para siswa menuntut ilmu, tak jarang dari mereka memiliki teman yang berbeda keyakinan agama.
Pasal 13 Ayat (3)
Huruf e
Yang dimaksud dengan "multikultural" adalah pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman yang ada dalam masyarakat menyangkut nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang dianut.
Yang dimaksud dengan "kemajemukan" adalah pandangan seseorang tentang keragaman agama yang hidup di dalam masyarakat.

Dalam sebuah pengalaman yang pernah saya rasakan dalam kehidupan saya pribadi, pada saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar pada saat itu saya tinggal di sebuah perumahan yang 99 % mayoritas penduduknya beragama Islam. Seiring bertambah nya waktu beberapa orang dari suku batak berdatangan dan mendiami perumahan yang saya tempati. Melihat kebudayaan mereka berbeda dengan kebudayaan masyarakat disitu pada umumnya banyak orang-orang di perumahan yang tidak mau bergaul dengan suku batak tersebut terutama mereka yang beragama kristiani. Kemudian yang terjadi di sekolah pada saat suku batak tersebut belajar dalam sekolah  umum, dalam pengamatan saya pada saat itu banyak siswa yang mengejek, mengacuhkan, sehingga keadaan suku batak tersebut menjadi terkucil pada saat itu, lain hal nya dengan suku batak yang beragama Islam sedikit demi sedikit mereka dapat menerima kedatangan penduduk baru dari suku batak. Kasus tersebut sangat didukung oleh berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah lebih memilih untuk berinteraksi dengan rekan-rekan mereka . Dalam konteks sekolah, itu adalah hubungan dimana mereka saling menghormati rekan, membantu, berbagi, dan umumnya sopan terhadap satu sama lain . Konsep interaksi dengan rekan sebaya adalah komponen penting dalam teori pembangunan sosial ( Rubin , 2009).
            Sekarang ini situasi perumahan menjadi 40% penduduknya bersuku batak, dan penduduk sudah bisa saling bertenggang rasa. Banyak suku batak yang berdatangan keperumahan itu karena satu alasan yaitu mereka tidak diterima di perumahan lainnya selain di perumahan yang saya tempati itu pun mereka mengeluarkan uang tambahan untuk bisa tinggal disana, entah apa alasan mereka mengucilkan suku batak tersebut. Itu masih menjadi sebuah tanda tanya besar di benak saya pada saat ini dan mengapa dulu orang-orang suku batak tidak diterima tinggal di suatu perumahan. Gambarannya semboyan dari Bhineka Tunggal Ika belum dapat mereka terapkan.
Hal ini bertentangan dengan UUD 1945 dalam pasal 28E yang berbunyi:
1)      Setiap orang berhak memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
2)      Setiap orang berhak atas kebebasan menyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
3)      Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.

Dalam wacana yang ditulis oleh A. Chaedar Alwasilahkerukunan umat beragama harus dikembangkan di sekolah pada awal usia mungkin. Benar sekali jika pihak sekolah melalaikan tugasnya bisa saja terjadi masalah sosial seperti yang saya tuturkan di atas. Pengembangan kerukunan umat beragama tidak terlepas dari peran seorang guru. Guru harus mampu membimbing siswanya dan menciptakan sebuah komunikasi sosial satu sama lain tanpa membedakan suku maupun agama. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Chaedar : “Siswa harus dilatih untuk mendengarkan secara aktif dengan mempertahankan kontak mata langsung , berdiri diam dan bergiliran berbicara. Mereka juga harus diajarkan bagaimana untuk menyumbangkan ide-ide yang relevan dengan topik diskusi”. Metode diskusi di kelas dapat menjalin komunikasi yang lancar antar sesama sehingga kerukunan umat beragama dapat terwujud di mulai dari  tingkat pendidikan dasar. Karena, setelah mereka selesai dari pendidikan dasar para siswa akan melanjutkan kehidupan mereka selanjutnya dan Jangan sampai semboyan Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi isapan jempol saja yang tak bisa terurai dalam kehidupan bangsa yang majemuk ini. Mendidik dan menanamkan nilai Bhineka Tunggal Ika sejak dini sangatlah penting. Jika tidak, apa jadinya negara ini? Mungkin kelak akan terjadi perang antar suku atau antar agama yang lebih dahsyat dari yang pernah terjadi saat ini. Bukti kejadian tersebut sangat banyak, seperti konflik antaretnis dan agama besar yang terjadi di daerah Sambas ( 2008 ) , Ambon ( 2009 ) , Papua ( 2010 ) dan Singkawang ( 2010 ). Tanpa langkah yang tepat untuk diambil, konflik seperti itu akan terulang kembali.
Anak didik harus dibuka mata dan wawasannya untuk melihat sekian perbedaan yang ada di sekitarnya. Inilah realitas bangsa yang multi-kultural dan multi-religius. Harapannya sejak dini peserta didik telah diperkenalkan untuk bekerjasama dan berinteraksi tanpa kenal batas agama. Jadi, arah pendidikan agama di sekolah ke depan perlu dirubah. Kalau selama ini lebih menekankan pada aspek ritual (aspek vertikal), maka harus diperbaharui dengan menekankan baik aspek vertical maupun horizontal. Dengan arah pendidikan seperti itu diharapkan, anak didik di samping tetap akan memiliki keimanan yang benar sesuai dengan agamanya, juga memiliki sikap toleransi yang tinggi seperti yang dituntut oleh kondisi masyarakat yang plural.
Prof. Chaedar juga berpendapat bahwa pendidikan kita saat ini telah gagal mendidik para siswanya dengan kompetensi wacana sipil . Sebagian besar politisi dan birokrat datang ke Parlement karena pendidikan yang mereka telah diperoleh. Sayangnya, banyak dari mereka tidak memiliki kompetensi tersebut. Masih segar dalam ingatan kita insiden memalukan pada tahun 2010 , ketika anggota parlemen saling bertukar kata-kata kasar dengan cara tidak sopan dalam sidang yang disiarkan langsung di seluruh negeri. Alih-alih mendidik anak-anak sekolah , politisi ini telah menetapkan contoh yang sangat miskin bagaimana berperilaku. Kejadian ini menunjukkan dengan jelas bahwa pendidikan politik belum cukup untuk mempromosikan kompetensi dalam wacana sipil . Ketika politisi dan birokrat gagal untuk mendidik masyarakat , sekolah harus dikembalikan dan diberdayakan untuk berfungsi secara maksimal .
Hal tersebut sangat berbanding lurus dengan hasil riset studi Aprilliaswati  yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan di sebuah sekolah dasar di Pontianak , kota di mana bentrokan antaretnis telah terjadi cukup sering. Penelitian tersebut mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan harus mengembangkan tidak hanya penalaran ilmiah , tetapi juga wacana sipil positif. Penalaran ilmiah sangat diperlukan dalam mengembangkan warga intelektual, sedangkan kompetensi wacana sipil sangat penting untuk menciptakan warga negara yang beradab . Studi ini membuktikan bahwa sekolah harus berfungsi sebagai laboratorium untuk latihan masyarakat sipil.
Masih mengenai wacana kelas untuk memupuk kerukunan beragama oleh A. Chaedar Alwasilah mengenai bentuk-bentuk radikalisme telah mengganggu kohesi sosial dan dapat menghasilkan saling tidak percaya di antara kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat . Kasus bunuh diri - pemboman gereja di Surakarta misalnya. Masyarakat kita sebenarnya sudah semakin dewasa dalam menanggapi isu atau provokasi. Mereka tidak lagi mudah diadu-domba serta dimanfaatkan, baik oleh pribadi maupun kelompok demi target dan tujuan politik tertentu. Meskipun berkali-kali masjid dan gereja diledakkan, tetapi semakin teruji bahwa masyarakat kita sudah bisa membedakan mana wilayah agama dan mana wilayah politik.Sehingga, tidak perlu menyimpan dendam. Ini merupakan ujian bagi agama dan penganutnya. Inilah tugas kita bersama, yakni pemerintah, para pemimpin agama, dan masyarakat untuk mengingatkan para aktor politik di negeri kita untuk tidak memakai agama sebagai instrumen politik dan tidak lagi menebar teror untuk mengadu domba antarpenganut agama.
Para pemimpin masing-masing agama semakin sadar dalam melihat hubungan antar-agama. Para pemimpin agama seringkali mengadakan pertemuan, untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan memecahkan berbagai problem keagamaan yang tengah dihadapi bangsa kita dewasa ini. Kesadaran semacam ini seharusnya tidak hanya dimiliki oleh para pemimpin agama, tetapi juga oleh para penganut agama sampai ke akar sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara pemimpin agama dan umat atau jamaatnya. Kita seringkali prihatin melihat orang-orang awam yang pemahaman keagamaannya bahkan bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri. Inilah kesalahan kita bersama. Kita lebih mementingkan bangunan-bangunan fisik peribadatan dan menambah kuantitas pengikut, tetapi kurang menekankan keberagamaan serta kualitas mereka dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.
Setidaknya kita para pemeluk agama masih mempunyai harapan untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan pada gilirannya bisa hidup berdampingan lebih sebagai kawan daripada sebagai lawan. Maka akan terwujud kerukunan antar umat beragama yang hidup harmonis dan saling menghormati satu sama lain. Kerukunan antar umat beragama itu dapat diterapkan pada saat dibangunnya tempat ibadah oleh pemerintah, agama yang lain tidak saling mengejek dan mengganggu umat lain dalam interaksi sehari harinya, serta memberikan waktu pada umat lain untuk beribadah bila memang sudah waktunya mereka melakukan ibadah. Itulah cerminan dari semboyan Bhineka Tunggal Ika yang harus benar-benar di junjung tinggi oleh semua pemeluk agama agar dapat menghormati satu sama lain. Hormatilah selalu orang lain tanpa memandang Agama apa yang mereka anut.
Di negara Indonesia yang mengakui kebebasan beragama sering terjadi konflik yang mengatas namakan agama tertentu sehingga sering dianggap bahwa agama merupakn suatu  dari suatu konflik. Jika kita mengkaji lebih dalam mengenai masalah toleransi beragama dan jika semua masyarakat juga mengakui bahwa semua agama tidak ada yang buruk pasti akan tercipta ketentraman dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat dengan keberagaman  agama. Namun pada kenyataannya, jangankan toleransi antar umat beragama, kerukunan inter umat beragama pun masih sulit untuk dikendalikan. Dalam keyakinan yang sama pun masih sering dijumpai konflik mengenai perbedaan tuntunan ataupun dalam menentukan suatu mazab.
Filsuf Amerika pendidikan , Emerson ( 1837 ) menunjukkan pentingnya pendidikan liberal.
Menurut Prof. Chaedar, “Pendidikan Liberal bertujuan membebaskan siswa dari sikap rabun dan provinsi terhadap orang lain”.
Akan tetapi ada pertentangan dari pendapat lain menurut Mohammad Najib (2013) yang mengemukakan bahwa “Liberalisme dan privatisasi pendidikan akan menjauhkan cita-cita bangsa dan akan melumpuhkan kemampuan masyarakat sehingga akan mengembalikan Indonesia sebagai bangsa kuli dan bangsa yang terjajah.” Tidak semua pendapat mengenai pendidikan liberal itu salah. Kita ambil dari segi positif nya  seperti yang dikemukakan oleh Pak Chaedar dalam bukunya yang berjudul “Pokoknya Rekayasa Literasi”, menjelaskan manfaat pendidikan liberal agar nantinya tidak ada lagi bentrokan antar etnis, budaya, dan agama di negeri ini.
Menurut William O'neil, pakar pendidikan dari University of Southern California dalam Ideologi Pendidikan (2001) bahwa pendidikan kalau boleh diibaratkan seperti seorang musafir yang sedang berada pada persimpangan jalan - jalan mana yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan adalah pilihan. Begitu juga dengan pendidikan, memilih jalan itu merupakan hal yang amat penting dan menentukan keberhasilan
Dalam konteks Indonesia , pendidikan liberal harus mencakup pengetahuan etnis , agama dan minoritas bahasa dan budaya. Ciri utama pendidikan yang berideologi liberal adalah selalu berusaha menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan. Hal ini terlihat pada benang merah kebijakan Mendiknas beberapa tahun terakhir. Oleh karenanya kompetensi yang harus dikuasai peserta didik merupakan upaya untuk memenuhi dan menyesuaikan tuntutan dunia kerja sebagaimana dikemukakan dalam setiap pergantian kurkulum baru kita (Mansour Fakih, 2002).
Tujuan liberalisme pendidikan adalah mengangkat perilaku individu yang efektif. Sedangkan tujuan liberalisme pendidikan bagi sekolah adalah menyediakan informasi dan keterampilan yang diperlukan oleh siwa supaya bisa belajar sendiri secara efektif. Selain itu, siswa juga diajarkan tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah praktis melalui penerapan tata cata pemecahan masalah secara perseorangan maupun kelompok berdasarkan metode ilmiah yang rasional. Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan dalam berbagai macam pelatihan. Pada paradigma pendidikan liberal, fokus utama terletak pada bagaimana membuat anak didik memiliki kemampuan sehingga mereka bisa bersaing di tengah sistem yang berlaku pada masyarakat. Pendidikan liberal tidak melihat masalah yang berkembang dalam masyarakat karena sistem sosial masyarakat tersebut, tetapi karena ketidaksiapan manusia dalam menghadapi sistem. Sehingga ini akan mengakibatkan pembelajaran yang bersifat memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berguna sebanyak-banyaknya kepada anak didik, pengetahuan bersifat doktriner dan menilai sesuatu hanya dengan melihat kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh anak didik. Menariknya ideologi pendidikan inilah yang sekarang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat global.
“Jika Anda ingin mengetahui kualitas suatu bangsa , hanya melihat kualitas dan praktek sistem pendidikan . Hampir semua negara maju menyadari link ini dan dengan demikian membentuk sistem pendidikan yang baik”. (Prof. Chaedar)
Kelahiran Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada dasarnya merupakan salah satu wujud reformasi bangsa dalam bidang pendidikan sebagai respons terhadap berbagai tuntutan dan tantangan yang berkembang baik global, nasional, maupun lokal. Dalam konsideran UU tersebut dinyatakan: “bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. 
Moch. Surya (2004) menyatakan bahwa Undang-undang nomor 20 tahun 2003 mengandung sejumlah paradigma baru yang menjadi landasan perwujudan pendidikan nasional. Paradigma tersebut, antara lain :
1. Penyelenggaraan pendidikan nasional dilandasi dengan prinsip-prinsip berikut ini : 
a) Secara demokratis dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keagamaan,
    dan budaya bangsa.
b) Sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan system terbuka dan multi makna.
c) Sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan yang berlangsung sepanjang
    hayat. 
d) Sebagai proses keteladanan membangun kemauan dan kreativitas dalam proses
    pembelajaran.
e) Mengembangkan budaya belajar (baca, tulis, dan hitung) bagi segenap warga
    masyarakat.
f) memberdayakan masyarakat melalui partisipasi dan pengendalian mutu layanan
    pendidikan.
2. Demokratisasi dan desentralisasi sebagai semangat yang melandasi penyelenggaraan pendidikan nasional dengan lebih menekankan peran serta masyarakat dan pemerintah daerah dalam keseluruhan aktivitas penyelenggaraan pendidikan.
3. Peran serta masyarakat sebagai konsekuensi demokratisasi pendidikan nasional maka masyarakat memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
4. Tantangan global, hal ini berimplikasi bahwa pendidikan nasional harus beradaptasi dengan perkembangan global yang menuntut sumber daya manusia yang lebih berkualitas dalam menghadapi persaingan global di segala bidang.
5. Kesetaraan dan keseimbangan, bahwa Undang-undang Sisdiknas yang baru mengandung paradigma dengan menerapkan konsep kesetaraan dalam penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah memeiliki kesetaraan dengan satuan pendidikan yang dislenggarakan oleh masyarakat (swasta). Sedangkan yang dimaksud keseimbangan ialah keseimbangan yang utuh antara unsur-unsur kepribadian yang meliputi aspek intelektual, spiritual, emosional, fisik, sosial, moral, dan kultural.


Kesimpulan:
keanekaragaman budaya merupakan aset dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. "multikultural" adalah pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman yang ada dalam masyarakat menyangkut nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang dianut. Sedangkan, "kemajemukan" adalah pandangan seseorang tentang keragaman agama yang hidup di dalam masyarakat. Arah pendidikan agama di sekolah ke depan perlu dirubah. Kalau selama ini lebih menekankan pada aspek ritual (aspek vertikal), maka harus diperbaharui dengan menekankan baik aspek vertical maupun horizontal.
Para pemimpin agama seringkali mengadakan pertemuan, untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan memecahkan berbagai problem keagamaan yang tengah dihadapi bangsa kita dewasa ini. Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang harus benar-benar di junjung tinggi oleh semua pemeluk agama agar dapat menghormati satu sama lain. Hormatilah selalu orang lain tanpa memandang Agama apa yang mereka anut.
Filsuf Amerika pendidikan , Emerson ( 1837 ) menunjukkan pentingnya pendidikan liberal. Pendidikan liberal harus mencakup pengetahuan etnis , agama dan minoritas bahasa dan budaya. Ciri utama pendidikan yang berideologi liberal adalah selalu berusaha menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan.

“Jika Anda ingin mengetahui kualitas suatu bangsa , hanya melihat kualitas dan praktek sistem pendidikan . Hampir semua negara maju menyadari link ini dan dengan demikian membentuk sistem pendidikan yang baik”. (Prof. Chaedar).

Moch. Surya (2004) menyatakan bahwa Undang-undang nomor 20 tahun 2003 mengandung sejumlah paradigma baru yang menjadi landasan perwujudan pendidikan nasional.





Referensi:
www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Realita Hubungan Antaragama, Yogyakarta : Mataram-Minang Lintas Budaya, 2004
HTTP://THEFUTUREEDUCATIONLEADER.BLOGSPOT.COM
Yogyakarta; Adicita Karya Nugraha. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Menulis Juga Butuh Interaksi !

Diposting oleh Unknown di 10.30 0 komentar





Sepi bukan berarti tidak bisa memiliki kegiatan sama sekali. Dalam keadaan sepi aku menarikkan tinta-tinta ball point ku di atas lembaran-lembaran kertas putih dan melukisnya dalam berbagai kata-kata. Dalam sepi kita juga dapat merasakan ketenangan dan rasa damai, sehingga aku bisa menulis seperti malam ini. Aku bisa menulis dengan lancar dan akan lebih mudah ketika suasana hening menyelimuti malam ini, dan seperti yang dikatakan oleh Budi Hermawan,yakni “Berkariblah dengan sepi, karena dengan sepi berlalu lalang inspirasi yang tak kita mengerti, atau tak dapat kita tangkapi ketika kita sibuk berjalan dalam hingar yang pekak”.
Maka sebaliknya, keadaan yang ramai dan dalam kesibukkan hanya membuat fikiran menjadi tidak karuan dan buyar sehingga sulit untuk merangkai kata dalam membuat karya tulis. Saat ini, inspirasi dan ide kreatif sangat dihargai karena datangnya tidaklah mudah dan datang setelah adanya perjalanan panjang penuh kesungguhan dan diperoleh dari sebuah kesadaran yang benar-benar sadar. Untuk mendapatkan inspirasi dapat diperoleh ketika kita sedang sendiri, sepi, sunyi, dan jauh dari keramaian. Tetapi, bagi kebanyakan orang suasana seperti ini hanya berujung pada sebuah perenungan panjang yang tidak berkesudahan. Perenungan yang bercampur dengan lamunan kosong hanya akan membuang-buang waktu.
Bahwasannya sebuah inspirasi datang bukan hanya sekedar berdiam diri, namun dengan adanya interaks. Berdiam diri tanpa interaksi tak akan memunculkan ide dan inspirasi. Kegiatan menulis yang saya lakukan sekarang ini membutuhkan banyak inspirasi, karena inspirasi akan memberikan kita ide tentang apa yang akan kita tulis dan sharing. Tidak mungkin tulisan ini datang dengan sendirinya tanpa ada kaitannya dengan interaksi.
Dalam kesendirian dan suasana sepi masih terjalin komunikasi dengan dunia dan lingkungan sekitarnya dan bukan berarti murni bersepi-sepi ria, karena disana tetap ada interaksi. To the point, Inspiration come from Interaction.
Baiklah setelah menceritakan keadaan saya pada sekarang ini yang sedang berinteraksi dengan peralatan tulis saya, saya lanjutkan dengan pengalaman hasil belajar saya pada minggu yang lalu. Mr. Lala Bumela, M.Pd telah memberikan evaluasi belajar pada Critical Review sebelumnya. Beliau mengatakan bahwa “kita semua belum menyadari akan pemikiran dari prof.  Chaedar Alwasilah bahwa yang dimaksud dengan something we do, yang lebih ditekankan pada kata “do” disini memiliki makna Religious Harmony”.
Kemudian, evaluasi dari pemetaan Critical Review mengenai Classroom Discourse. Kata Classroom yaitu Sacred Site yang berarti situs suci dan berhubungan dengan ritual.  Kata Classroom sendiri merupakan sesuatu yang complicated dan apa yang dapat kita lakukan pada situs suci ini dalam artian yang dapat kita lakukan pada sebuah Classroom itu sangat terbatas dan bukan untuk main-main. Karena, sekali lagi Classroom sama hal nya dengan situs suci.
Kata kunci dari Classroom Discourse sendiri berada pada “Interaksi”

Interaksi lebih kompleks terjadi di kelas dan untuk menjaga harmonisasi kelas itu sulit. Diperlukan factor yang membuat kelas menjadi kompleks.  Faktor-faktor tersebut, antara lain:
1.      Background
Background disini berarti orang tua yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan orang tua yang menjadi salah satu factor kelas agar menjadi kompleks. Pendidikan atau latar belakang pendidikan orang tua menjadi sangat penting untuk menunjang keberhasilan dalam hal belajar anak-anaknya sehingga dapat menciptakan kelas menjadi kompleks. Orang tua yang memiliki tingkat pendidikan rendah dapat memiliki pandangan yang sempit pula mengenai pendidikan dan akan menghambat prestasi pendidikan yang akan dihasilkan oleh anaknya. 

Kata “kompleks” itu sendiri memiliki berbagai macam pengertian. Dalam kata sifat, kompleks memiliki definisi yaitu: mengandung beberapa unsur  yang pelik, rumit, sulit, dan saling berhubungan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sedangkan, jika diartikan dalam kata benda kata “kompleks” disini berarti himpunan kesatuan atau kelompok.

2.      Kembali pada factor selanjutnya, yakni Communicative Strategies. Komunikasi biasanya dilakukan untuk suatu tujuan. Dalam situasi kelas, orang-orang berkumpul disana untuk tujuan pembelajaran. Selain itu, orang-orang memiliki alasan lain untuk berkomunikasi di dalam kelas. Kelas merupakan sebuah komunitas, oleh sebab itu interaksi harus berjalan dengan lancar dengan adanya Communicative Strategies.

3.      Faktor berikutnya yaitu Meaning-Making Practices.
kita datang ke kelas dengan membawa ideologi. Ideologi merupakan nilai-nilai (values) yakni berrhubungan dengan kedisiplinan. Jarang sekali pada saat ini orang-orang yang mengedepankan konteks kedisiplinan, kecuali bagi mereka yang memiliki tingkat pendidikan tinggi serta sadar akan pentingnya disiplin dan juga masyarakat yang memiliki norma agama yang kuat dan semangat gotong royong yang memiliki value.

Menulis adalah proses meditasi. Menulis adalah upaya menangkap makna, mengikatnya, kemudian mengabadikannya. Mr. Lala Bumela menyampaikan bahwa sebagai pembaca kita belum berevolusi, karena untuk berevolusi harus melewati syarat pembaca menuju ke qualified reader.
Untuk itu dibutuhkan pondasi yang kuat untuk membangun sebuah kelas dengan mewujudkan ketiga factor-faktor tadi, yakni: Background, Communicative Strategies, dan Meaning Making Practices. Pondasi yang harus dibangun selanjutnya yaitu kompleksitas mengajar. Kesalahan dalam mengajar saat ini yang sedang dirasakan yaitu antara guru dengan murid harus sling mengenal satu dengan lainnya. Bukan hanya mengenal hanya sebatas tahu nama akan tetapi, dalam konteks yang lebih luas lagi. Ujung dari apa yang telah disampaikan, yaitu “Talk” atau berdialog

Kesimpulannya:

Religious Harmony ujungnya merupakan the process of doing classroom discourse. Evaluasi pada critical review yang paling penting sekarang ini, yaitu dengan membuang paragraf yang tidak terpakai, dan sebelum membuat critical review harus memperhatikan terlebih dahulu sebelum langsung mengkritik suatu karya bermula dari sisi yang mana dulu. Itu yang seharusnya kita fikirkan.

The Book has Opened Our Eyes to the World

Diposting oleh Unknown di 10.27 0 komentar




Dalam artikel Speaking Truth to Power with Books oleh Howard Zinn,  ada sepenggal kisah menarik sekaligus perlu kita renungkan seksama dari kisah Howard Zinn, bahwa malang sekali nasib seseorang yang hidupnya terlepas atau jauh dengan buku. Kedua orang tuanya tidak memiliki satu buku pun hingga ia berumur 14 tahun. 14 tahun hidup tanpa buku rasanya jika hidup di zaman seperti sekarang ini pastinya orang tersebut akan sangat tertinggal, buta informasi bahkan untuk dapat belajar ilmu pengetahuan tidak  terlepas dari yang namanya “buku”. Bahkan sekarang ini buku sudah sangat menyatu dengan dunia yang kita pijak. Sehingga banyak orang yang berkata “Buku adalah jendela dunia”, dengan membuka buku berarti kita membuka jendela dunia. Kita bisa melihat keluar, sesuatu yang baru atau pemandangan yang berbeda dengan apa yang ada di pikiran kita saat ini. Dengan membaca sebuah buku berarti kita membuka cakrawala juga dapat menyelami dunia lain, yaitu sebuah dunia yang ada di dalam pikiran orang lain. Buku adalah benda yang sangat bermanfaat. Buku berisi pengetahuan-pengetahuan yang sebagian orang ada yang  belum mengetahuinya. Buku mengabadikan sebuah ilmu sehingga saat zaman telah berganti ilmu tersebut tak akan hilang. Kita dapat mengeksplorasi ilmu pengetahuan dari membaca buku. “buku adalah sumber ilmu”. Ilmu yang didapat dari membaca buku dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, ilmu yang diaplikasikan adalah ilmu yang berguna dan tidak merugikan. Untuk itu, kita harus bisa memilih buku yang bermanfaat untuk dibaca. Sebuah buku yang menarik perhatian biasanya dilihat dari unik tidaknya sampul buku tersebut. Meskipun begitu, don’t judge the book from the cover. Buku yang bersampul menarik belum tentu isinya bermanfaat, begitu pula sebaliknya. Buku-buku terbaik akan mendapat award best-seller.
Masih dengan cerita diatas, di usia nya yang ke-14 tahun itu ia baru dipertemukan dengan sebuah buku, itupun ia menemukannya di jalan. Karena merasa tertarik akhirnya ia membaca buku tersebut, kemudian apa yang terjadi? Ternyata ada efek yang sangat kuat yang mempengaruhi pikiran setelah membaca buku. Inilah kekuatan dari sebuah buku, buku dapat mempengaruhi kehidupan seseorang bahkan kehidupan orang yang membacanya. Baiklah, tidak semua orang di bumi ini memiliki kemampuan ekonomi yang cukup bahkan untuk kebutuhan makan sehari-haripun masih banyak orang yang harus meminta-minta di jalanan apalagi berfikir untuk membeli buku. Tak jarang bagi mereka yang memiliki cukup uang pun yang takut kehilangan uang nya sekedar untuk membeli sebuah buku. Dan memang saya akui bahwa harga buku yang di jual di toko-toko terbilang cukup mahal. Bukan karena buku tersebut yang mahal akan tetapi pemikiran yang terkandung di dalam buku tersebutlah yang membuatnya menjadi mahal. Kita tidak perlu khawatir jika belum sempat memiliki sebuah buku, masih banyak cara dan jalan keluar seperti berkunjung ke perpustakaan, taman bacaan yang meminjamkan buku-buku dengan gratis, baik dikelola lembaga, komunitas, atau pribadi. Entah itu Perpustakaan Mushalla, Masjid, Desa, Kecamatan, TPA, Pesantren, Sekolah, Kampus, Komunitas, Gereja, Vihara, dll. Tidak ada seorangpun yang akan melarang kita untuk membaca. Tetap optimis meskipun tidak bisa memiliki buku, yang terpenting selama hidup kita pernah membaca buku berapapun jumlahnya, siapapun penulisnya dan akan lebih baik lagi jika kita mengabadikan sebuah karya tulis dari tangan kita sendiri . Orang yang sangat merugi ialah orang yang selama hidupnya tidak pernah membaca buku dan mengabadikan hidupnya lewat tulisan.

Jika keadaan kita memang betul-betul jauh dalam arti tinggal di sebuah pelosok negeri sehingga sangat sulit menemukan perpustakaan, maka jangan pernah putus asa dan berhenti berjuang sampai disini. Kita pun pasti bisa menciptakan tulisan kita sendiri, meskipun sangat sederhana dengan pandangan yang sempit akan informasi yang sebelumnya belum pernah kita lakukan. Cara menciptakan sebuah tulisan disini dengan membuat buku catatan harian.  MenurutHernowo, seorang penulis profesional, mengatakan, "Jangan menganggap enteng nilai sebuah buku harian”. Setiap kejadian yang pernah berlangsung dalam kehidupan kita setidaknya tersimpan dalam bentuk tulisan dan buku. Bukan kan seorang tokoh yang sangat terkenal sebagai penemu benua Amerika pun menulis buku harian. Ya semua pasti tahu soal fakta sejarah asli mengenai Columbus, tokoh yang selalu disebut sebagai penemu benua Amerika.  Kini, sudah saatnya kita mengungkapkan kebenaran sejarah,
Dalam buku Anthropology off the Shelf: Anthropologists on Writingmenyebutkan bahwa  If a book changes somebody’s life by changing somebody’s consciousness, it is going to have an effect on the world, in one way or the other, sooner or later, in ways that you probably cannot trace”.Artinya, buku mengubah hidup seseorang dengan mengubah kesadaran seseorangitu akan memiliki efek pada dunia , dalam satu atau cara lain , cepat atau lambat , dengan cara yang Anda mungkin tidak bisa diprediksi sebelumnya. Buku beroperasi di banyak cara untuk mengubah kesadaran masyarakat .  
Ada beberapa cara dimana sebuah buku dapat mengubah kesadaran seseorang ketika buku mengajak pembaca nya untuk ikut hidup dalam tulisan yang ada di dalam buku tersebut, yaitu dengan cara : memperkenalkan sebuah ide yang pembaca tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Penulis kreatif memunyai kemampuan untuk menciptakan dan menghasilkan karya yang khas. Substansi utamanya adalah ide. Masih ada cara lain yang buku dan menulis berpengaruh, yaitu melalui literatur absurditas , dalam tradisi Jonathan Swift dan Franz Kafka dan Mark Twain
Napoleon Bonaparte, Singa daratan Eropa mengungkapkan , “Saya lebih takut kepada pena seorang penulis ketimbang 1000 senjata tentara musuh.” Karena dengan menulis, ilmu dapat tersalurkan dan ide dapat tersampaikan. Disamping itu hanya dengan menulis dapat mengubah dunia.
Betapapun canggihnya otak manusia, pasti punya daya dan kapasitas. Bagai selembar kertas kosong di kala bayi dulu, kini banyak sekali coretan yang sudah dituliskan. Otak manusia waktu bayi masih bagus dan kuat dipakai mengingat, tetapi seiring bertambahnya usia dan meningkatnya aktivitasnya, maka banyak memori yang harus disimpan oleh otak. Itu sebabnya satu tulisan lebih baik daripada 1000 hafalan/ingatan.
The Book has opened our eyes to the world. Buku telah menjadi sumber ilmu pengetahuan yang tiada habis. Buku telah membuka mata kita akan dunia.  Betapa pentingnya buku bagi kehidupan masa depan manusia. Banyak  manusia-manusia hebat karena mereka adalah orang-orang yang kutu buku. Anda lihat di Indonesia tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno, Hatta adalah orang-orang yang sangat kutu buku. Bahkan ketika mereka di penjara apa yang mereka rindukan adalah buku-buku. Buku-buku telah mengilhami mereka untuk merubah bangsanya menjadi lebih baik. Kelahiran kemerdekaan negeri ini adalah karena pemikiran yang hebat yang telah mengilhami Bung Karno karena wawasan yang luas dari bacaan-bacaan yang inspiratif.
Begitu juga dengan buku A People’s History of United States of America.  Buku yang mengungkap fakta-fakta mengenai sejarah yang terjadi di Benua Amerika.  Tentu saja keberanian Howard Zinn dalam mengungkap kebenaran tersebut menuai banyak protes dari warga Amerika bahkan seluruh dunia.  Dalam bukunya tersebut, Howard Zinn ingin meluruskan jalan pemikiran orang-orang yang  Selama ribuan tahun, selalu mempersepsikan bahwa penemu Benua Amerika adalah Christopher Colombus

Christoper Columbus atau Christoffa Corombo adalah salah seorang penjelajah yang berasal dari Italia tepatnya di Genoa.  Ia lahir pada tanggal 30 Oktober tahun 1451.  Berdasarkan catatan sejarah yang banyak diakui orang-orang, ia tiba di Benua Amerika pada tanggal 12 Oktober tahun 1492. Perjalanan Colombus dimulai 3 Agustus 1492, sehari setelah jatuhnya Granada, benteng terakhir umat Islam di Spanyol. Dalam pertarungan hidup-mati itu, 300 ribu orang Yahudi diusir dari Spanyol oleh raja Ferdinand yang Kristen. Selanjutnya, dikisahkan bagaimana perjuangan penggalanagan dana oleh kaum Yaahudi untuk mendukung perjalanan Colombus dan pada hakekatnya juga pelayaran bagi pelarian Yahudi Spanyol ke Amerika. Tapi ada bahagian informasi yang sengaja tidak dipublikasikan, yakni bahwa Colombus membawa dua kapal, yakni kapal Pinta dan Nina. Kedua kapal ini dibantu oleh nakhoda Muslim bersaudara. Martin Alonso Pinzon menakhodai kapal Pinta, dan Vicente Yanex Pinzon menakhodai kapal Nina. Keduanya menggunakan Spanyol namun keduanya sebenarnya masih keluarga Sultan Maroko Abu Zayan Muhammad III (1362-1366) yang menguasai kekhalifahan Marinid (1196-1465). Informasi tersebut juga ditemukan dalam buku karya John Boyd Thacher, Christopher Colombus, New York, 1950.
Awalnya ia mengira tempat tersebut tak berpenghuni, namun kemudian ia menjumpai suku asli di sana yang dikenal dengan nama Suku Indian.  Pada mulanya, mereka menyambut Columbus dengan senang hati.  Namun setelah niat Columbus untuk menjadikan wilayah mereka sebagai salah satu koloni Spanyol, Columbus kemudian mendapatkan banyak penolakan dari suku Indian.  Bahkan menurut beberapa catatan sejarah, ada banyak kapal dari rombongan Columbus yang ditenggelamkan oleh suku Indian.  Mereka memang merasa terancam dengan kehadiran Columbus dan rombongannya.  Menurut beberapa catatan sejarah telah menunjukkan banyak bukti yang mengukuhkan teori bahwa Columbus bukan penemu benua Amerika yang pertama kali.  Hal ini dikarenakan ada banyak bukti fisik seperti prasasti yang membuktikan bahwa jauh sebelum Columbus tiba di Benua Amerika, telah ada seorang tokoh bernama Cheng Ho atau Zheng He yang tiba 70 tahun, .
Bahkan beberapa sejarawan juga berargumen bahwa berabad-abad sebelum Cheng Ho, para saudagar sekaligus pelaut-pelaut muslim sudah menjejakkan kaki di Benua Amerika dan membuat perkampungan di sana. Istimewanya, mereka menikahi penduduklokal dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari suku asli di Benua Amerika. Pendapat ini secara terang-terangan dituliskan seorang peneliti bernama Dr. Yousseef Mroueh di dalam essainya yang cukup populer berjudul "Precolumbian Muslims in America".  Tulisan ini banyak menyajikan fakta fisik dan juga manuskrip sejarah, oleh sebab itu bantahan terhadapnya masih belum ada.
Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut.  Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab. nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.
            Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba – masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).
Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat. Menurut Dr A Zahoor,nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.
”Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numandalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.
Beberapa bukti lain juga di jelaskan dalam beberapa tulisan, diantaranya :
-          Dalam buku Saga America (New York, 1980), Dr. Barry Fell, arkeolog dan ahli bahasa berkebangsaan Selandia Baru jebolan Harvard University menunjukan bukti-bukti detail bahwa berabad-abad sebelum Colombus, telah bermukim kaum Muslimin dari Afrika Utara dan Barat di beua Amerika. Tak heran jika bahasa masyarakat Indian Pima dan Algonquain memiliki beberapa kosakata yang berasal dari bahasa Arab.
-          John Boyd Thacher dalam, bukunya Christopher Colombus yang terbit di New York, 1950, menunjukkan bahwa Colombus telah menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika sedang berlayar di dekat Cibara, bahagian tenggara pantai Cuba, ia menyaksikan mesjid di atas puncak bukit yang indah. Sementara itu , dalam rangkaian penelitian antropologis, para antropolog dan arkeolog memang menemukan reruntuhan beberapa masjid dan menaranya serta ayat-ayat al-Qur’an di Cuba, Mexico, Texas dan Nevada.
-          Ahli sejarah Jerman, Alexander Von Wuthenan juga memberikan bukti bahwa orang-orang Islam sudah berada di Amerika tahun 300-900 M. Artinya, umat Islam sudah ada di Amertika, paling tidak setengah abad sebelum Colombus lahir. Bukti berupa ukiran kayu berbentuk kepala manusia yang mirip dengan orang Arab diperkirakan dipahat tahun 300 dan 900 M. Beberapa ukiran kayu lainnya diambil gambarnya dan diteliti, ternyata memiliki kemiripan dengan orang Mesir.

Selama ini kita tahu bahwa Christoper Columbus lebih dikenal sebagai Columbus sebagai seorang pahlawan ternama the herothe great discoverer, the pious Bible reader.  Namun banyak penelitian yang mengatakan sebaliknya.  Seperti yang diungkapkan Howard Zinn, "To read Colombus as a murderer, a torturer, a kidnaper, a mutilator of native people, a hypocrate, a greedy man looking for gold, willing to kill people and mutilate people-it was shocking." Dalam buku in diungkapkan tentang Columbus sebagai pembunuh, penyiksa, penculik, mutilator orang pribumi, munafik, orang yang tamak mencari emas, bersedia untuk membunuh orang dan mencincang orang.  Tentunya itu merupakan hal yang mengejutkan bagi sebagian orang yang baru mengetahui sejarah ini. 
Beberapa fakta yang diharapkan bisa membuka mata kita dan mengerti betul kebenaran suatu sejarah, diantaranya:
a.       Alasan sebenarnya Columbus pergi berlayar
Columbus memperkosa putri salah satu bangsawan Spanyol yang masih berusia 13 tahun. Pengadilan tidak bisa memutuskan ia harus dihukum mati, sehingga akhirnya Ratu Isabella mengirimnya dalam misi mencari benua baru (saat itu tujuan utama adalah mencari India) dandengan harapan Columbus tidak akan bisa pulang kembali.
b.      Jurnal Columbus
Saat akhirnya Columbus mendarat pertama kali di Benua Biru Amerika, ia masih mengira inilah tanah India. Saat itu para penduduk asli menyambut Columbus dengan gembira. Namun, sebaliknya apa yang ditulis Columbus dalam jurnalnya?“Mereka membawakam kami burung beo, bola kapas dan tombak dan banyak hal lainnya sebagai hadiah. Mereka rela memperdagangkan segala yang mereka miliki... Mereka tidak memanggul senjata, padahal saya menunjukkan pedang. Mereka tidak memiliki besi. Tombak mereka terbuat dari tebu...  Mereka akan dengan mudah kami taklukan menjadi budak...  Dengan lima puluh orang saja, kita bisa menundukkan mereka semua dan membuat mereka melakukan apapun yang kita inginkan.”
Columbus juga menulis, “Saya percaya bahwa mereka akan dengan mudah menjadi orang Kristen buatan, karena sepertinya mereka tidak beragama.”Dalam catatan hariannya, Columbus mengakui bahwa saat ia tiba di Hindia (ia saat itu masih percaya telah menemukan India, bukan Amerika), ia menyiksa penduduk pribumi, menggantung, mencambuknya, hanya demi satu informasi penting: di mana ada emas?

Helen Ellerbe, dalam “The Dark Side of Christian History” (hal. 86-88)menggambarkan keberingasan Columbus.  Selain menyiksa, ia juga sering memperkosa perempuan-perempuan pribumi lalu mencambuk mereka demi kesenangan belaka.
Koloni yang dibawa Columbus pada pelayaran berikutnya (1496) diklaim bertanggungjawab atas kematian 34 juta penduduk asli Amerika. 

Meski demikian, entah bagaimana dalam prosesnya, ChristoperColumbus masih saja tercatat sebagai penemu benua AmerikaHal ini dikarenakan pada saat terjadi pengusiran kaum Yahudi dari Spanyol sebanyak 300.000 orang oleh raja Ferdinand seorang Kristen yang taat, itu membuat orang-orang Yahudi menggalang dana untuk pelayaran Columbus.  Lalu berita ‘penemuan benua Amerika’ dikirim pertama kali oleh Christopher Columbus kepada kawan-kawannya orang Yahudi di Spanyol.  Pelayaran Columbus ini nampaknya haus publikasi dan diperlukan untuk menciptakan legenda sesuai dengan ‘pesan sponsor’ Yahudi sang penyandang dana. Kisah selanjutnya kita tahu bahwa media massa dan publikasi dikuasai oleh orang-orang Yahudi.  Maka tampak ada ketidak-jujuran dalam menuliskan fakta sejarah tentang penemuan benua Amerika. Penyelewengan sejarah oleh orang-orang Yahudi itu terjadi sejak pertama kali mereka bersama-sama orang Eropa menjejakkan kaki ke benua Amerika.
Setelah mengetahui fakta-fakta tersebut, kini apakah masih pantas Columbus disebut tokoh besar penemu Amerika, kemudian diperingati hari Colmbus seluas dunia yang kita pijak in dengan sebutan “Columbus Day”? Setelah mengetahui fakta kekejaman dirinya yang telah terkuak oleh penelitian sejarah?
Untuk mempelajari fakta-fakta tentang Columbus dapat menyebabkan revolusi dalam pemikiran seseorang. Seperti yang di alami oleh Howard Zinnsetelah seseorang membaca bukunya yang mengisahkan Christoper Colombus tadi dia menerima surat dari seorang guru di California yang mengatakan:
" Kau tahu, kau membuat saya dalam kesulitan . Seorang siswa membawa pulang buku Anda, ibunya membaca bab pertama atau mungkin lima halaman pertama dari bab pertama, dan berkata, " kemudian  ibunya berkata  “Aku akan berbicara dengan komite sekolah. Saya pikir Anda Guru adalah seorang komunis !". Itu kasus di mana terjadinya revolusi dalam pemikiran seseorang. Hanya  ketika kita belajar tentang informasi yang telah dipotong sebelum menyelesaikan bagian akhir suatu buku sudah membuat emosi meluap-luap, pemikiran tidak terima dan tidak sependapatpun sering terjadi. Alangkah baiknya kita membaca buku tidak setengah-setengah agar informasi kebenaran yang dimaksudkan oleh buku tercapai kepada pembacanya dan dapat menyimpulkan di akhir bagian buku bukan sepenggal dari isi buku.
Dari sini kita dapat mengetahui bahwa buku benar-benar memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pembacanya.  Terlebih lagi buku dapat memberikan fakta-fakta yang benar adanya tentang suatu peristiwa atau sejarah.  Sejarah mengenai benua Amerika yang menitikberatkan kepada Christopher Columbus  merupakan bentuk aplikasi yang ditulis Howard Zinn dalam bukunya yang berjudul A People’s History of the United States 

Referensi
Wiedarti, Pangesti. 2005. Menuju Budaya Menulis. Yogyakarta: Tiara Wacana
Sumber: Ternyata-Penemu-Benua-Amerika-Bukan-Columbus

Rabu, 19 Februari 2014

Kesadaran Menulis dan Berfikir Kritis

Diposting oleh Unknown di 06.22 0 komentar
2nd Class Review
Name   : Saleha


Setelah melewati Class Review pertama serta melewati sesi tanya jawab, kini materi yang baru hadir mengenai Pentingnya Literasi (baca-tulis) di sebuah bangsa. Dalam Class Review kedua ini, Mr. Lala Bumela menyampaikan bahwa kita menulis bukan hanya menceritakan sebuah cerita yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya melainkan kita harus lebih aktif dalam mencari tahu serta pandai-pandai mengakses buku yang didalamnya mengenai materi yang disampaikan.
Di semester empat ini ada beberapa hal yang penting, diantaranya :
Yang pertama, Academic Writing sifatnya formal dalam hal Critical Structure dan harus terfokuskan (focused). Academic Writing juga memiliki sifat yang kaku dan sistematicity. Dalam mata kuliah Writing yang disampaikan oleh Mr. Lala Bumela, kita ini bagaikan premium resto yaitu memilliki kekhasan tersendiri dan dapat dinikmati oleh kalangan tertentu. Ada yang membedakan Academic writing dengan Writing lainnya, yakni mengenai cara bagaimana mencairkan sebuah idea tau gagasan.
Yang kedua, mengenai Critical Thingking. Critical Thingking merupakan siklus yang sedang dibangun, diperjelas oleh orang yang kritis. Seseorang yang memiliki kemampuan berfikir kritis memiliki ciri-ciri, diantaranya:
·         Selalu bertanya atau mempunyai sifat selalu ingin tahu;
·         Tidak pernah merasa puas ;
·         Sangat selektif;
·         Bersikap cermat;
·         Menanggapi serta memberikan komentar terhadap sesuatu dengan penuh pertimbangan;
·         Bersedia memperbaiki kesalahan atau kekeliruan terhadap dirinya sendiri;
·         Berani menyampaikan kebenaran meskipun dirinya berat untuk melakukan;
·         Dapat menelaah dan menganalisa sesuatu secara sistematis.
Dalam bidang pendidikan, berpikir kritis dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman mengenai materi yang dipelajari dengan cara mengevaluasi secara kritis argument yang terdapat pada buku teks, jurnal, maupun teman diskusi, termasuk argumentasi dari seorang dosen dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, Critical Thingking atau berpikir kritis dalam pendidikan merupakan kompetensi yang akan dicapai serta alat yang diperlukan dalam mengkontruksi ilmu pengetahuan.
Critical Thingking dapat dilakukan dengan cara: kesempatan berpendapat seseorang baik secara lisan maupun tulisan seperti seorang ilmuwan, yaitu dapat berupa diskusi-diskusi yang muncul dari pertanyaan atau masalah yang tidak terstruktur atau dapat dilakukan dengan kegiatan pengamatan terhadap fenomena yang terjadi agar sesorang dapat melatih kemampuan berpikirnya.
Yang ketiga yaitu menulis. Menulis itu akan lebih susah, apalagi pada saat mencoba memulai untuk menulis. Masih sering saya kebingungan untuk mengawali kata-kata dalam menulis. Tetapi jika saya ibaratkan menulis itu seperti pada saat kita mencoba untuk mendorong sebuah mobil yang sedang mogok. Pasti pada mulanya sangat berat sekali mendorong mobil dalam posisi diam (mogok). Namun, ketika ada usaha yang kita lakukan untuk mendorong mobil itu semakin kita berusaha mobil akan semakin bergerak dan dorongan itu akan mulai ringan kemudian lama kelamaan akan mulai cepat bergerak dan mobil akan mulai melaju/mesin mobil itu akan menyala kembali.
Sama halnya ketika akan menulis, awal nya akan terasa begitu berat. Namun, ketika ada sebuah usaha yang kita lakukan tangan kita tidak mau berhenti untuk menulis sampai terkadang lupa bahwa saya telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya pada tulisan saya.
Menulis tidak akan terlepas dengan membaca. Menulis dan membaca merupakan dua sisi yang berbeda yang saling berkaitan satu sama lain. Meskipun sudah terbiasa untuk menulis, kita akan tetap merasa kesulitan untuk menulis jika jarang melakukan kegiatan membaca. Karena kita tidak akan bisa terus mengeluarkan sesuatu tanpa pernah memasukkan sesuatu. Dengan membaca kita akan mendapatkan sesuatu yang baru, pengetahuan baru, ide baru, kreasi, serta cara pandang yang baru akan sesuatu.
Format nilai pada semester empat dalam mata kuliah menulis ini yang akan mendapatkan nilai “A” yaitu, mereka yang mengetahui caranya menulis sesuatu.
Bagi Mr.Lala Bumela, menulis adalah:
-          A way of knowing something;
-          A way of representing something (terkait dengan voice);
-          A way of reproducing something.
Ketiga siklus tersebut harus dibangun dalam mata kuliah ini.
\     Menulis, berpikir kristis dan membaca saling berkesinambungan.
\     Something à sesuatu itu bersifat: Info, Knowledge, and Experience
Pengalaman (experience) merupakan psikologi belajar dapat dihidupkan dengan cara mengakses buku-buku. Orang tua yang cerdas akan mendorong anaknya untuk memiliki buku dan mengoleksi buku. Agar buku yang anaknya punyai itu dapat mentransfer ilmu (dipelajari) oleh anak. Tidak hanya sekedar mendorong untuk memiliki buku akan tetapi, memotivasi anaknya untuk mencintai membaca dan menulis.
Pengalaman merupakan guru yang paling baik. Kita beruntung dapat melihat betapa sebuah pengalaman itu penting. Pengalaman kuliah, yang diingat dari kuliah bukan nilai yang didapat selama kuliah melainkan pengalaman yang terjadi pada saat kuliah.
Pintar saja itu belum cukup jika tidak bisa merubah molekul kepintaran dengan pengalaman. Itulah pesan yang disampaikan oleh Mr. Lala Bumela.
Pentingnya sebuah literasi dalam kehidupan. Literasi tingkat tinggi menyebabkan kenaikan GDP. Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan menjadi tulang punggung kemajuan peradaban suatu bangsa. Tidak mungkin menjadi bangsa yang besar jika hanya mengandalkan budaya lisan yang mewarnai pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan. Bangsa yang memiliki literasi tinggi tidak akan membuang sampah sembarangan, tidak akan korupsi.
Menulis membutuhkan guru bahasa. Bahasa itu penting karena merupakan gerbang portal menuju gerbang-gerbang yang lain. Sebagai seorang penulis haruslah merepotkan diri serta memprediksi berapa banyak literasi yang telah dilakukan. Penulis yang hebat dapat memprediksi apa yang kita baca karena tulisan akan seperti kuburan jika tidak ada pembaca. Yang lebih penting posisi pembaca bukan hanya pada saat membaca, tetapi lebih komplek dan qualified.

 

Saleha's blogger © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor